Shaikh Fairul Edros Ahmad Shaikh, Bergita Gusti Lipu, Miya Irawati, Alex M Lechner, and Perrine Hamel

Keterangan gambar: Perbedaan struktur vegetasi antara kota baru dan permukiman tidak terencana. *Taman (atau parks) yang ditampilkan merupakan perbandingan antara taman privat di kota baru dan taman publik di dekat permukiman tidak terencana. Meskipun terdapat beberapa perbedaan fisik dalam alam perkotaan, kami mengkaji apakah perbedaan tersebut tercermin dalam cara jasa ekosistem (atau manfaat alam) digunakan dan dipersepsikan oleh warga di komunitas-komunitas ini. Kredit foto: Shaikh Fairul Edros.

This Plain Language Summary is published in advance of the paper discussed. Please check back soon for a link to the full paper.

Lingkungan alam perkotaan, seperti pepohonan, taman, sungai, dan danau, mendukung kehidupan sehari-hari di kota-kota. Alam perkotaan dapat menyediakan air, membantu menurunkan suhu wilayah permukiman, mengurangi risiko banjir, serta meningkatkan kesejahteraan melalui interaksi dengan ruang hijau. Manfaat-manfaat ini dikenali sebagai jasa ekosistem. Namun demikian, tidak semua kelompok masyarakat memperoleh manfaat tersebut secara setara. Di kota-kota yang berkembang pesat, perbedaan tipe permukiman sering kali mencerminkan kesenjangan yang signifikan dalam hal tingkat kesejahteraan, ketersediaan infrastruktur, dan kualitas lingkungan. Hal ini penting karena mempengaruhi akses masyarakat terhadap alam sekaligus membentuk cara mereka merasakan manfaat yang dihasilkannya.

Studi ini berfokus pada Kota Tangerang Selatan, Indonesia, di mana pengembangan kota baru yang direncanakan secara terpadu yang berdampingan dengan permukiman yang berkembang secara organik tanpa perencanaan formal. Penelitian ini melibatkan survei terhadap 403 responden yang tersebar di kedua tipe permukiman tersebut untuk memahami pola pemanfaatan dan persepsi masyarakat terhadap berbagai layanan ekosistem. Analisis mencakup tiga kategori utama, yaitu layanan penyediaan (misalnya air), layanan pengaturan (misalnya mitigasi banjir dan panas), serta layanan budaya (misalnya menikmati pemandangan alam dari tempat tinggal dan rekreasi).

Kami menemukan adanya perbedaan yang jelas pada beberapa jenis jasa eskositem. Penghuni kawasan kota baru sekitar dua kali lebih banyak yang melaporkan memiliki akses terhadap pemandangan alam dari tempat tinggal mereka, yang mengindikasikan bahwa akses terhadap pengalaman keseharian dengan ruang hijau tidak terdistribusi secara merata. Sebaliknya, penduduk di permukiman yang berkembang secara organik lebih cenderung bergantung pada air tanah sebagai sumber penyediaan air, yang mencerminkan ketergantungan yang lebih tinggi terhadap sumber daya alam dalam kehidupan sehari-hari. Ketergantungan ini juga dapat mengindikasikan tingkat kerentanan yang lebih tinggi apabila sumber tersebut mengalami pencemaran, eksploitasi berlebihan, atau gangguan lainnya.

Menariknya, persepsi terhadap jasa ekosistem jenis pengaturan, termasuk peran alam dalam mengurangi panas dan risiko banjir, relatif serupa pada kedua tipe permukiman tersebut. Secara keseluruhan, temuan kami menunjukkan bahwa tipe permukiman di kawasan perkotaan, yang sebagian dibentuk oleh proses gentrifikasi melalui pembangunan baru, mempengaruhi cara masyarakat mengakses dan bergantung pada layanan ekosistem. Oleh karena itu, perencanaan kota perlu mengakui perbedaan sosial-ekologis ini serta berupaya mengurangi ketimpangan akses terhadap manfaat lingkungan alam perkotaan diantara berbagai kelompok masyarakat.